Sabtu, 16 Oktober 2021

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Gus Dur dan Jeda Kemanusiaan dalam Konflik Aceh

oleh : WILLY VEBRIANDY, 0 Komentar
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah Presiden yang masa jabatannya terbilang singkat dalam sejarah pemerintahan Indonesia. Gus Dur menjadi Presiden hanya sekitar 21 bulan, terhitung sejak dilantik tanggal 20 Oktober 1999 sampai akhirnya dilengserkan secara politis pada 23 Juli 2001.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Karpet Lebaran

oleh : ALISSA WAHID, 0 Komentar
Menjelang Idul Fitri tahun 2001, Presiden Gus Dur menerima laporan tentang persiapan Istana Merdeka untuk melaksanakan open house seperti tahun sebelumnya. Kali ini ada yang berbeda. Penulis buku Presiden Gus Dur: The Untold Story (2014), Priyo Sambada, menuturkan bagaimana protokol Istana merencanakan Presiden dan Ibu Negara akan menerima rakyat di teras Istana, tidak di Ruang Kredensial Istana Merdeka yang biasa digunakan untuk berbagai acara resmi Presiden seperti menerima kredensial duta besar negara sahabat, foto bersama tamu negara, dan acara formal lain.
Kategori : Headline , Opini

Pemulihan Setelah Pandemi Covid-19

oleh : FATHONI AHMAD, 0 Komentar
Sejak ditetapkan sebagai Pandemi Global oleh Organisasi Kesehatan Dunia, WHO pada 11 Maret 2020 lalu, penyebaran dan penularan Corona Virus Desease 2019 (Covid-19) berdampak buruk terhadap seluruh mobilitas yang menyertai kehidupan manusia di bumi. Tak terkecuali aktivitas keagamaan di musala dan masjid yang turut kena dampak peniadaan ibadah untuk memutus rantai penyebaran virus tetapi dipahami secara fatalis oleh sebagian orang.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Kelompok Muslim yang Ikut Menentang Politik Perbedaan Warna Kulit di Afrika Selatan

oleh : ADIEN TSAQIF WARDHANA, 0 Komentar
Politik perbedaan warna kulit (Apartheid) muncul di Afrika Selatan pada awal abad ke-20, yakni antara tahun 1910-1948 ketika orang-orang kulit putih Afrika Selatan menerapkan kebijakan pemisahan masyarakat berdasarkan warna kulit. Orang kulit putih mengangap bahwa ras mereka lebih tinggi dan menganggap bahwa orang kulit hitam adalah ras bawahan.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Tradisi Mendhobit di Pesantren

oleh : MUHAMMAD RAMLI, 0 Komentar
Ilmu itu ibarat ikan yang ada di laut, untuk mendapatkannya kita perlu memancingnya, bila sudah dapat, agar ia tidak ke mana-mana maka kita perlu mengikatnya. Cara paling baik untuk mengikat adalah dengan menuliskannya. Di pesantren istilah ini disebut dengan mendhobit (mencatat).
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

George Floyd, Rasisme, dan Teladan Iblis

oleh : ABDULLAH FAIZ, 0 Komentar
Amerika Serikat akhir-akhir ini diselimuti dengan para demonstran yang menuntut keadilan atas kematian George Floyd, seorang pria berkulit hitam yang kehilangan nyawa setelah mendapatkan kekerasan oleh petugas kepolisian Minneapolis.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Kerukunan di Tengah Pandemi Covid-19

oleh : MOCHAMMAD AGUS RACHMATULLOH, 0 Komentar
Kerukunan umat beragama identik dengan istilah toleransi. Toleransi menunjukkan arti saling memahami, saling mengerti, dan saling membuka diri dalam bingkai persaudaraan. Bila pemaknaan ini dijadikan pegangan, maka ”toleransi” dan “kerukunan” adalah sesuatu yang ideal dan didambakan oleh setiap manusia.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Sukarno, Gus Dur dan Komitmen Kebangsaan Kaum Nasionalis dan Agamais

oleh : AHMAD ZAINUL HAMDI, 0 Komentar
Sejak era kemerdekaan, masih saja, ada beberapa kelompok dari masyarakat kita yang tidak bisa menerima negara ini, Indonesia, secara utuh. Terutama mereka yang lebih menginginkan terbentuknya negara yang berlandaskan ajaran satu agama, Islam. Tentu hal ini melahirkan penolakan-penolakan terhadap aspek fundamental yang menjadi bagian penting atas berdirinya negara Indonesia. Salah satunya ialah penolakannya terhadap Pancasila sebagai ideologi negara.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Warisan Gus Dur Untuk Gerakan Perempuan (Bag-2 Habis)

oleh : SITI AMINAH TARDI, 0 Komentar
Pemerintah Orde Baru menemukan cara yang paling baik untuk membendung dan memanipulasi kekuatan kaum perempuan, baik secara sosial, politik, kultural dan ekonomi, yang oleh Julia Suryakusuma disebut “ibuisme negara” (state ibuism). Ibuisme negara berasal dari aspek yang peling menekan dari “peng-ibu rumahtanggaan” (housewifization) dan ibuisme priyayi. Dalam “ibuisme” perempuan harus meladeni suami, anak-anak, keluarga, masyarakat dan negara. Sedangkan dalam “peng-ibu rumahtanggaan” perempuan harus memberikan tenaga mereka secara cuma-cuma, tanpa mengharapkan prestise atau kekuasaan sebagai imbalan. (Suryakusuma:2012:360).
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

New Normal dan Problem Keterbatasan Daya Tampung Asrama Pesantren

oleh : MUHAMMAD ISHOM, 0 Komentar
Beberapa kalangan menyambut baik wacana new normal (tatanan normal baru) bagi pesantren untuk memulai kembali proses belajar mengajarnya di tengah masih adanya ancaman pandemi virus Corona yang telah berlangsung selama lebih dari dua bulan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa pesantren di Kabupaten Jombang yang sudah mulai mengatur kembalinya santri ke pondok seperti Pesantren Darul Ulum, Desa Rejoso, Kecamatan Peterongan, Jombang (NU Online, 2 Juni 2020).
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi